Fenomena merebaknya pengemis di Indonesia merupakan masalah kompleks yang tidak ada habis-habisnya. Hidup menjadi pengemis bukan merupakan pilihan hidup atau keinginan seseorang, hal itu melainkan keterpaksaan yang harus mereka terima. Keberadaan pengemis tidak jarang menjadi masalah bagi banyak pihak baik keluarga, masyarakat, maupun negara. Pengemis juga warga negara yang harus dilindungi, dijamin hak-haknya sehingga dapat sejahtera hidupnya.
Pengemis merupakan orang yang mendapatkan penghasilannya dengan cara meminta-minta kepada orang lain di muka umum. Perilaku meminta-minta ini mengharapkan iba dari orang lain dengan berpenampilan yang menarik kesan iba orang lain. Pengemis umumnya seseorang yang tidak memiliki penghasilan tetap, tetapi ada pula pengemis yang dalam keadaan sehat dan sebenarnya mampu untuk bekerja namun dirinya memilih jalan untuk mengemis. Oleh karena itu mengemis merupakan perilaku yang menyimpang dari nilai dan norma di masyarakat, dan sama sekali bukan suatu pekerjaan yang layak. Bahkan sudah diberlakukan oleh Pemerintah Kota Bandung tentang himbauan untuk tidak memberi uang kepada Gepeng (gelandangan, pengemis), pengamen, dan anak jalanan, hal ini akan menyebabkan mereka akan terus menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Tidk jarang juga seseorang yang memanfaatkan buah hatinya untuk ikut mengemis bahkan dijadikan pengemis sehingga menambah rasa iba orang lain terhadap dirinya. Kebanyakan seorang pengemis yang berada di suatu wilayah atau tempat, bukan merupakan penduduk asli wilayah tersebut. Terkadang mereka, berasal dari wilayah tertinggal atau pedesaan yang merantau ke kota besar, namun mereka hanya menjadi beban hidup, dimana mereka kalah saing karena tidak memiliki keterampilan apapun, atau terkadang di sisi lain mereka merupakan orang-orang yang malas bekerja keras.
Cara mereka berinteraksi dengan orang lain di wilayah tempat tinggalnya yang serumpun, mereka secara bersama-sama membaur dengan penduduk pada umumnya. Namun jika mereka mulai berinteraksi di jalanan dengan banyak individu yang berbeda mereka akan bertingkah laku untuk mendapatkan belas kasihan, diataranya dengan berbagai modus yang berbeda-beda, anataralain berpura-pura sakit, kadang-kadang mendoakan dengan bacaan-bacaan ayat suci, ataupun sumbangan untuk organisasi-organisasi tertentu.
Adapun terjadinya pengemis berasal dari faktor internal dari dalam diri individu itu sendiri yaitu kemalasan, tidak mau bekerja keras dan cacat fisik sedangkan dari faktor eksternal, dari masyarakat di sekelilingnya, ekonomi dan budaya sosialnya. Interaksi antar kelompok dalam pengemis akan terjadi normal apabila jika memang di wilayah tersebut didominasi oleh pengemis (lokalisasi). Namun dapat menghasilkan interaksi yang berbeda jika pengemis hidup di lingkungan masyarakat yang berkecukupan namun dirinya tergolong dalam masyarakt miskin yang disebut kemiskinan relatif, apalagi masyarakat disekelilingnya mengetahui bahwa dirinya menjadi pengemis. Hal ini berarti pengaruh lingkungan tersebut menyebabkan gagalnya interaksi dirinya dengan keompok masyarakat di sekelilingnya.
Pengemis merupakan orang yang mendapatkan penghasilannya dengan cara meminta-minta kepada orang lain di muka umum. Perilaku meminta-minta ini mengharapkan iba dari orang lain dengan berpenampilan yang menarik kesan iba orang lain. Pengemis umumnya seseorang yang tidak memiliki penghasilan tetap, tetapi ada pula pengemis yang dalam keadaan sehat dan sebenarnya mampu untuk bekerja namun dirinya memilih jalan untuk mengemis. Oleh karena itu mengemis merupakan perilaku yang menyimpang dari nilai dan norma di masyarakat, dan sama sekali bukan suatu pekerjaan yang layak. Bahkan sudah diberlakukan oleh Pemerintah Kota Bandung tentang himbauan untuk tidak memberi uang kepada Gepeng (gelandangan, pengemis), pengamen, dan anak jalanan, hal ini akan menyebabkan mereka akan terus menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Tidk jarang juga seseorang yang memanfaatkan buah hatinya untuk ikut mengemis bahkan dijadikan pengemis sehingga menambah rasa iba orang lain terhadap dirinya. Kebanyakan seorang pengemis yang berada di suatu wilayah atau tempat, bukan merupakan penduduk asli wilayah tersebut. Terkadang mereka, berasal dari wilayah tertinggal atau pedesaan yang merantau ke kota besar, namun mereka hanya menjadi beban hidup, dimana mereka kalah saing karena tidak memiliki keterampilan apapun, atau terkadang di sisi lain mereka merupakan orang-orang yang malas bekerja keras.
Cara mereka berinteraksi dengan orang lain di wilayah tempat tinggalnya yang serumpun, mereka secara bersama-sama membaur dengan penduduk pada umumnya. Namun jika mereka mulai berinteraksi di jalanan dengan banyak individu yang berbeda mereka akan bertingkah laku untuk mendapatkan belas kasihan, diataranya dengan berbagai modus yang berbeda-beda, anataralain berpura-pura sakit, kadang-kadang mendoakan dengan bacaan-bacaan ayat suci, ataupun sumbangan untuk organisasi-organisasi tertentu.
Adapun terjadinya pengemis berasal dari faktor internal dari dalam diri individu itu sendiri yaitu kemalasan, tidak mau bekerja keras dan cacat fisik sedangkan dari faktor eksternal, dari masyarakat di sekelilingnya, ekonomi dan budaya sosialnya. Interaksi antar kelompok dalam pengemis akan terjadi normal apabila jika memang di wilayah tersebut didominasi oleh pengemis (lokalisasi). Namun dapat menghasilkan interaksi yang berbeda jika pengemis hidup di lingkungan masyarakat yang berkecukupan namun dirinya tergolong dalam masyarakt miskin yang disebut kemiskinan relatif, apalagi masyarakat disekelilingnya mengetahui bahwa dirinya menjadi pengemis. Hal ini berarti pengaruh lingkungan tersebut menyebabkan gagalnya interaksi dirinya dengan keompok masyarakat di sekelilingnya.
Komentar
Posting Komentar